Anak Anda Ngantukan

Dapet kiriman dari grup WA, hadduuuh, kocak.

Ngantukan
Anak Anda ngantukan

wkwkwkwk…

Saya selama ini sering ngantuk kalau di dalam kelas, kelas pembelajaran. Masak ia jadi calon anggota DPR? hahahaha, ada-ada saja. Siapa ya yang membuat postingan WA di atas, benar-benar menyindir, apalagi kalau sampai yang baca adalah anggota DPR beneran, hohoho.

Asyik, Silaturahmi ke SMP Kartika

Pagi ini, pagi-pagi sekali, saya menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke SMP Kartika XIX-2 Bandung. Sekolah ini adalah tempat saya PPL dulu. Beberapa guru dan siswa sudah saya kenal, alhamdulillah. Dan tambah bersyukur lagi karena mereka masih mengingat saya, hihihi.

“Bapak!”, teriak anak-anak.
Wah, ini hal yang masih saya rindukan. Saya ingin sekali kembali mengajar, menjadi guru. Jujur, menjadi guru itu sangat amat menyenangkan, ramai dan penuh warna-warni. Yang menjadi poin penting enaknya jadi guru itu adalah kita tidak akan kesepian, setiap hari bermain bersama siswa-siswi.

Pada kunjungan pagi ini, saya menyapa anak-anak kelas 7c, secara kelas ini adalah kelas dimana saya mengajar dulu, suasananya masih hangat dan bersahaja, hahhay. Btw, sampai sekarang masih tertawa sendiri, saking bahagianya, huihui!.

Tamparan! (29)

Merasa ditampar dengan artikel yang di tuliskan pada kompas. Judul besarnya adalah “Bacalah, Maka Kamu Pandai Menulis”. Merasa disindir juga, karena selama ini hanya membaca beberapa buku. Harus menambah jumlah buku bacaan, malu karena rajin menulis tapi tidak pernah membaca.

Berikut adalah kutipan dari kompas edukasi:

Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO 2012) mencatat indeks minat baca di Indonesia baru mencapai 0,001. Itu artinya, pada setiap 1.000 orang hanya ada satu orang yang punya minat membaca.

Masyarakat di Indonesia rata-rata membaca nol sampai satu buku per tahun. Tidak usah dibandingkan dengan Jepang dan Amerika yang rata-rata membaca 10-20 buku pertahun.

Jujur, dengan banyak membaca, banyak pula ide topik tulisan yang akan muncul. Menulis tanpa membaca, artinya mengarang-ngarang.

referensi:
http://edukasi.kompas.com………..

Tamparan! (19)

Wajah itu Dirawat, Bukan Diedit

Menjaga penampilan itu baik. Apalagi jika sedang bekerja, atau mungkin pergi ke tempat ibadah. Yang terbayang mungkin adalah penampilannya lebih sopan. Contohnya guru, kan jadi malu kalau ke sekolah tidak mencuci wajah, bangun pagi langsung saja pergi mengajar di kelas, hihihi, (guru macam apa).

Perkara wajah dirawat bukan diedit, berkaitan dengan membangun topeng bagi siapa saja yang melakukannya. Ia membagus-baguskan tampilan luar dengan mengedit fotonya sedemikian kerennya, sedemikian mempesonanya, sedemikian bersihnya, sampai jerawat sebesar kelereng menjadi tidak tampak. Bukannya merawat, malah mengedit. Kan lucu kalau cuma sampai mengedit foto saja, bukan dibarengi dengan merawat wajah.

Wajah dirawat tidak diedit, maknyos!. Wajah dirawat juga diedit, greget!. Wajah tidak dirawat tidak diedit, Hellooo?. Dan wajah tidak dirawat tapi diedit itu, geli!.

Laporan

Anak sekolah disibukkan dengan laporan praktikum, anak kuliah tidak kalah sibuknya membuat laporan kegiatan. Dulu seingat saya, kalau laporan ketika zaman SMA tidak ada yang tebal, sedang biasa saja. Kalau laporan di bangku kuliah, rata-rata tebal, tidak enak dilihat apalagi di bawa, berat. he

Laporan yang tebal
Mengapa laporan harus tebal? – ilustrasi: atinsights.com

Nah, saya bingung, kenapa harus tebal?
Apakah mengikuti laporan-laporan sebelumnya?
Atau ingin saja tebal, sehingga menurut Anda, yang lebih tebal, nilainya pun akan tebal, nilai laporan lebih besar.
Ooh, persepsi ini yang salah. Jika orang lain laporannya tebal, ya kita sesuaikan saja dengan kegiatan sesungguhnya. Tulis semua kegiatan di laporan, kalau misal sudah semua ditulis, dan laporan tidak tebal, ya biarkan saja. Lah, terus masalahnya apa? jangan dipaksa menjadi tebal.

Lebih baik isinya jujur, tidak kurang dan tidak lebih.