Memetik Hikmah (7)

Hari minggu lalu, saya mengikuti seminar pranikah di kampus sebelah. Seru, seru karena banyak yang mendapatkan doorprize, termasuk saya, hehehe. Saya mendapatkan doorprize Al-Quran besar, yaitu Al-Quran tafsir, sangat bagus.

Saat pulang dari seminar, saya melihat Al-Quran saya masih ada, berpikir Al-Quran ini harus disumbangkan, disumbangkan ke orang yang lebih membutuhkan. Singkat cerita, saya mengajak seorang teman dari pesantren untuk datang ke kosan, mengapa? untuk membayar hutang, eits! bukan dia yang punya hutang, melainkan saya, hahahaha. Saya belum membayar hutang Rp. 40.000, itu hutang buku, buku tahsin karya ustadz Abdur Rauf.

Waktu itu saya belum mempunyai cukup uang, jadi dicicil 10 ribu dulu. Namun dia menolak, katanya lebih baik nanti sekalian saja bayarnya. Saya teringat dengan doorprize Al-Quran tafsir, kemudian diberikan kepada teman saya ini.

Seminggu kemudian, Alhamdulillah saya mempunyai rezeki dan ingin membayar lunas hutang. Ketika dihubungi, “kang, saya ingin membayar hutang, minta nomor ATM”. Dia malah menjawab, “Gak usah dibayar kang, anggap saja kita barter, barter buku dengan Al-Quran, he”.

Dalam hati, waaah senang sekali. Alhamdulillah ya Allah…rezeki memang datangnya tidak disangka-sangka ya, rezeki datang dari mana saja…hehehe.

Memetik Hikmah (4)

Sandal hilang di masjid
Sandal Hilang | via: http://rotasinews.com/

Sering sekali terjadi ada sandal hilang di masjid, jika bukan orang lain berarti sandal Anda lah yang hilang, hehehe. Jika Anda bilang tidak pernah terjadi kehilangan sandal, berarti Anda kurang peka saja, hahahaha.

Kemarin tepatnya, sandal saya hilang. Bukan pertama kali, melainkan beberapa kali. Karena sudah sering kehilangan, jadi biasa-biasa saja, kalau hilang tinggal beli sandal di sekitar masjid.

Namun, berbeda dengan kejadian sandal hilang minggu lalu, waktu itu saya tidak membawa uang, jadi tidak bisa membeli sandal. Jarak masjid dengan kosan lumayan jauh. Mau tidak mau, harus berjalan kaki pulang di tengah keramain dalam keadaan telanjang, maksudnya telanjang kaki, hehehe.

Saya berpikir, ya Allah, malu juga dilihat banyak orang. Bayangkan, malu sama manusia saja sudah begini rasanya. Pertanyaannya adalah, “apakah kita pernah merasa malu kepada Allah? pernah merasa diawasi Allah?” yang sudah jelas selalu mengawasi kita setiap saat. Harusnya, harusnya kita selalu merasa terus dilihat Allah, diawasi Allah Swt…

Kirain ada Hantu

Kemarin malam, lampu kamar kosan tiba-tiba redup, tiba-tiba terang, dan begitu seterusnya, kelap-kelip ~ kelap-kelip. Waduh, sudah malam pula, sekitar jam 22.00. Terpikir pertama kali adalah ada hantu, hehehe.  

Kira-kira 10 menit lamanya, saya hanya bisa terdiam, dan melanjutkan membaca buku. Tiba-tiba,,, lampunya mati, gelap. Setelah ditelusuri, ditemukan bahwa lampu itu ternyata rusak, hahahaha. 

Masak takut sama lampu? hihihi.
Akhirnya saya mengambil kursi di dapur untuk mengganti lampu di atas. Alhamdulillah, masih ada stok lampu. Tapi masalahnya, lampu penggantinya berwarna kuning, huuaaa!!! benar-benar menyebalkan, karena warna lampu ini cepat membuat kita mengantuk. Efeknya, subuh-subuh menyalakan lampu, malah tiba-tiba ketiduran…

Bayar Hutang “Nyeleneh”

Ntah, itu hari apa, saya tidak membawa uang. Untuk kembali ke kosan, cukup jauh, sekitar 15 menit lamanya, jadi saya putuskan untuk berhutang. Berhutang disalah satu sahabat, berhutang 2000 rupiah, untuk membeli roti, karena saat itu sedang lapar-laparnya.

Jarang sekali bertemu dengan sahabat ini, untuk membayar hutang.

Akhirnya, ketika bertemu, tanpa perlu berpikir lama, saya langsung menyodorkan uang 5000-an kepadanya (hutang saya 2000). “Nih 5000, kembalian saya 3000”.  Ternyata dia tidak punya kembalian, uang yang ia miliki bernominal besar semua, tidak ada pecahan 2000-an atau 1000-an.

Akhirnya saya mengatakan, “ya sudah! sekarang berarti tinggal kamu yang berhutang 3000, hahahahahaha.”

Bolos Nyantren

Bolos sekolah biasa, kali ini bolos nyantren. Baru dua bulan di pesantren sudah bolos, tidak patut untuk ditiru. Gelisah tentu, takut keluar kosan, takut nanti ada komandan yang melihat, hahahaha, paling kalau ketahuan disuruh push up atau guling, seperti biasanya.

Ah, tapi memberanikan diri keluar kosan. Tengok kiri, tengok kanan, banyak santri yang berlalu lalang, karena di sini merupakan kawasan pesantren. Takut ada pelatih atau komandan yang menyamar, kemudian memantau santrinya yang bolos, hadduuuh. Karena teringat minggu lalu ada salah seorang santri ketahuan sembunyi di masjid, dan dimarah, beuh!

Mampusnya, uang saya habis, dan ATM berada di dekat pesantren, sudahlah, pergi ke kampus saja mengambil uangnya, meskipun jauh.

Sedang bersembunyi………………