Rekomendasi Pembelajaran Tajwid/Tahsin

Alhamdulillah, semakin hari, banyak ya tempat-tempat pembelajaran tahsin/tajwid di Indonesia. Dengan berbagai metode unggulan mereka untuk membuat santrinya bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar.

Saya ingin merekomendasikan tempat pembelajaran tahsin. Dimana?

Terserah Anda ingin belajar tahsin di mana, tapi saya sarankan sekali untuk belajar pada guru yang mempunyai sanad, yang bacaannya sesuai dengan Rasulullah saw, Insyaallah. 

Pernah belajar tahsin pada banyak guru/ustadz? bukankah terkadang apa yang diajarkan ustadz satu dengan yang lainnya berbeda?

Nah, supaya tidak membingungkan, direkomendasikan sahabat-sahabat untuk belajar Al-Quran pada guru yang mempunyai sanad bacaan Al-Quran. Kalau diajarkan oleh guru yang bersanad, kita tidak ragu lagi untuk menyampaikan ilmu Al-Quran yang telah diajarkan kepada orang lain, bukankah begitu? hihihi

Hayuuu, semangat belajar membaca Al-Quran… ^^

Iklan

Nostalgia (4)

Teringat kala itu ketika masih TK sampai kelas 3 SD, belajar ngaji kadang-kadang di rumah. Guru ngaji saya adalah Bapak, horor. Ketika mengaji diajar bapak, kesannya adalah “tiada hari tanpa menangis”, salah dikit saja dicubit/dipukul dan dimarah, hahahaha. Jadi kangen, eits! kangen bukan berarti mau dicubit lagi lo yaa…hehehe.

Dulu, kita ngaji seperti menyetor air mata saja. Kalau sudah waktunya ngaji, deg degan, takut salah, dan berujung menangis karena dimarah. Bukan saya sendiri, melainkan juga bersama adik, Nani. Kita berdua selalu menyetor air mata kalau belajar ngaji di rumah, hihihi.

Pendidikan belajar mengaji di rumah, dulu terkesan keras. Bukan hanya di rumah saya saja, melainkan tetangga juga. Berbeda kalau misalkan di TPQ, tidak keras, karena yang diajar bukan anaknya, hohoho. Tapi, saya melihat sekarang sudah berubah, alhamdulillah tidak begitu keras.

Hm, setidaknya pernah merasakan pendidikan yang berkesan, hihihi.

Terimakasih kang Guru

Sehabis shalat subuh, saya bertemu dengan beliau, kang guru. Beliau diberikan karunia memiliki bacaan Al-Quran yang bagus. Dalam hati, “kesempatan yang bagus nih”, saya tidak menyia-nyiakan waktu, ingin dikoreksi bacaan Al-Qurannya.

Sekarang jarang lagi, dulu sering kalau bertemu dengan sahabat-sahabat yang bagus bacaaan Al-Qurannya, saya selalu menyempatkan diri untuk meminta waktu mereka, mengoreksi bacaan Al-Quran saya. Ya Allah, alhamdulillah, Kau telah memperkenalkan mereka untuk mengajar hamba membaca Al-Quran.

Kembali ke cerita, saya menghampiri kang guru, alhamdulillah masih diingat, hehehe. “Apa kabar?”, “alhamdulillah baik kang” jawab saya. Singkat cerita, Banyak bacaan saya yang dikoreksi, alhamdulillah, senang sekali. 😀

Terimakasih guru.
Hal yang ingin saya sampaikan di sini adalah, jangan belajar sendiri (autodidak) jika masalah agama, lebih-lebih belajar membaca Al-Quran, hadirkanlah guru.

Asyik, Silaturahmi ke SMP Kartika

Pagi ini, pagi-pagi sekali, saya menyempatkan diri untuk bersilaturahmi ke SMP Kartika XIX-2 Bandung. Sekolah ini adalah tempat saya PPL dulu. Beberapa guru dan siswa sudah saya kenal, alhamdulillah. Dan tambah bersyukur lagi karena mereka masih mengingat saya, hihihi.

“Bapak!”, teriak anak-anak.
Wah, ini hal yang masih saya rindukan. Saya ingin sekali kembali mengajar, menjadi guru. Jujur, menjadi guru itu sangat amat menyenangkan, ramai dan penuh warna-warni. Yang menjadi poin penting enaknya jadi guru itu adalah kita tidak akan kesepian, setiap hari bermain bersama siswa-siswi.

Pada kunjungan pagi ini, saya menyapa anak-anak kelas 7c, secara kelas ini adalah kelas dimana saya mengajar dulu, suasananya masih hangat dan bersahaja, hahhay. Btw, sampai sekarang masih tertawa sendiri, saking bahagianya, huihui!.

Tamparan! (19)

Wajah itu Dirawat, Bukan Diedit

Menjaga penampilan itu baik. Apalagi jika sedang bekerja, atau mungkin pergi ke tempat ibadah. Yang terbayang mungkin adalah penampilannya lebih sopan. Contohnya guru, kan jadi malu kalau ke sekolah tidak mencuci wajah, bangun pagi langsung saja pergi mengajar di kelas, hihihi, (guru macam apa).

Perkara wajah dirawat bukan diedit, berkaitan dengan membangun topeng bagi siapa saja yang melakukannya. Ia membagus-baguskan tampilan luar dengan mengedit fotonya sedemikian kerennya, sedemikian mempesonanya, sedemikian bersihnya, sampai jerawat sebesar kelereng menjadi tidak tampak. Bukannya merawat, malah mengedit. Kan lucu kalau cuma sampai mengedit foto saja, bukan dibarengi dengan merawat wajah.

Wajah dirawat tidak diedit, maknyos!. Wajah dirawat juga diedit, greget!. Wajah tidak dirawat tidak diedit, Hellooo?. Dan wajah tidak dirawat tapi diedit itu, geli!.