Rekomendasi Pembelajaran Tajwid/Tahsin

Alhamdulillah, semakin hari, banyak ya tempat-tempat pembelajaran tahsin/tajwid di Indonesia. Dengan berbagai metode unggulan mereka untuk membuat santrinya bisa membaca Al-Quran dengan baik dan benar.

Saya ingin merekomendasikan tempat pembelajaran tahsin. Dimana?

Terserah Anda ingin belajar tahsin di mana, tapi saya sarankan sekali untuk belajar pada guru yang mempunyai sanad, yang bacaannya sesuai dengan Rasulullah saw, Insyaallah. 

Pernah belajar tahsin pada banyak guru/ustadz? bukankah terkadang apa yang diajarkan ustadz satu dengan yang lainnya berbeda?

Nah, supaya tidak membingungkan, direkomendasikan sahabat-sahabat untuk belajar Al-Quran pada guru yang mempunyai sanad bacaan Al-Quran. Kalau diajarkan oleh guru yang bersanad, kita tidak ragu lagi untuk menyampaikan ilmu Al-Quran yang telah diajarkan kepada orang lain, bukankah begitu? hihihi

Hayuuu, semangat belajar membaca Al-Quran… ^^

Iklan

Parkir Khusus “Dekan”

Di kampus saya, ada slot parkir khusus untuk “Dekan”, pemimpin sebuah fakultas. Ada yang menarik, awalnya saya berpikir negatif, kok dibeda-bedakan ya, apa bedanya parkir Dekan dengan dosen-dosen lain? mengapa parkir Dekan sungguh spesial?

Menurut saya, ternyata ada tujuannya. Yaitu untuk lebih mudah mengetahui kehadiran Dekan, hehehe. Kalau tidak ada mobilnya, berarti beliau sedang tidak ada di kampus. Bisa jadi ini sebagai pemicu seorang Dekan lebih rajin lagi untuk hadir ke kampus.

Oia, maaf sudah berpikiran negatif sebelumnya, hehehe, manusia…manusia…

Bolos Nyantren

Bolos sekolah biasa, kali ini bolos nyantren. Baru dua bulan di pesantren sudah bolos, tidak patut untuk ditiru. Gelisah tentu, takut keluar kosan, takut nanti ada komandan yang melihat, hahahaha, paling kalau ketahuan disuruh push up atau guling, seperti biasanya.

Ah, tapi memberanikan diri keluar kosan. Tengok kiri, tengok kanan, banyak santri yang berlalu lalang, karena di sini merupakan kawasan pesantren. Takut ada pelatih atau komandan yang menyamar, kemudian memantau santrinya yang bolos, hadduuuh. Karena teringat minggu lalu ada salah seorang santri ketahuan sembunyi di masjid, dan dimarah, beuh!

Mampusnya, uang saya habis, dan ATM berada di dekat pesantren, sudahlah, pergi ke kampus saja mengambil uangnya, meskipun jauh.

Sedang bersembunyi………………

Nostalgia (4)

Teringat kala itu ketika masih TK sampai kelas 3 SD, belajar ngaji kadang-kadang di rumah. Guru ngaji saya adalah Bapak, horor. Ketika mengaji diajar bapak, kesannya adalah “tiada hari tanpa menangis”, salah dikit saja dicubit/dipukul dan dimarah, hahahaha. Jadi kangen, eits! kangen bukan berarti mau dicubit lagi lo yaa…hehehe.

Dulu, kita ngaji seperti menyetor air mata saja. Kalau sudah waktunya ngaji, deg degan, takut salah, dan berujung menangis karena dimarah. Bukan saya sendiri, melainkan juga bersama adik, Nani. Kita berdua selalu menyetor air mata kalau belajar ngaji di rumah, hihihi.

Pendidikan belajar mengaji di rumah, dulu terkesan keras. Bukan hanya di rumah saya saja, melainkan tetangga juga. Berbeda kalau misalkan di TPQ, tidak keras, karena yang diajar bukan anaknya, hohoho. Tapi, saya melihat sekarang sudah berubah, alhamdulillah tidak begitu keras.

Hm, setidaknya pernah merasakan pendidikan yang berkesan, hihihi.

Tips UTS

Pagi-pagi sekali sudah membaca tips-tips UTS dalam salah satu grup di Line. Aneh memang grup ini, ada-ada saja yang dibahas.

Tips-tips mereka seperti yang ada di atas, kalau tips UTS dari saya adalah “berani duduk di bangku paling depan” hahahaha. Kalau duduk di bangku paling depan kan nggak diperhatikan pengawas, sepertinya…hihihi.

Dalam dunia perkuliahan, UTS diartikan “Ujian Tidak Serius”, sementara UAS diartikan “Ujian Agak Serius”trus kapan seriusnya? hahahaha.