Logam di Bandara

Sekarang, pemeriksaan di Bandara semakin ketat. Tepatnya ketika saya mudik kemarin tanggal 25 Juni 2016 di Bandara Husein Sastranegara Bandung dan transit di Bandara I Gusti Ngurah Rai Bali. Ketika pemeriksaan barang bawaan, alat pendeteksi juga mendeteksi logam, seperti sabuk, bahkan uang logam. Kalau punya uang recehan saja di kantong, alarm akan berbunyi, haddeeeh merepotkan.

Saya tidak tahu alasannya mengapa, karena saya tidak mempunyai banyak ilmu tentang hal ini, hehehe. Tapi perubahan yang ada pasti ada alasannya, demi pelayanan dan keamanan yang lebih baik.

Oia, kalau memakai “gigi emas” bagaimana ya? bukankah itu logam juga? jangan-jangan terdeteksi juga, hahahahaha.

Bermalam Sendiri di Hutan

Baru merasakan bermalam sendiri di hutan, hanya bermodalkan ponco dan tali rafia. Jadi ceritanya begini:

Hari kamis lalu, kami (santri SSG) pergi ke gunung untuk melaksanakan pelantikan. Naik angkot dari pesantren ke Lembang, kemudian jalan sampai ke gunung, huadduh asli capek sekali, ditambah lagi sedang shaum. Saya selalu berbisik dalam hati, yang akhwat saja kuat, masak saya yang ikhwan kalah? ini semacam motivasi tersembunyi, hehehe.

Ada beberapa orang harus berhenti di tengah jalan (tergeletak), ada yang asmanya kambuh, ada yang pingsan, dsb. Ada yang paling parah, seorang ikhwan, sampai ditandu, jujur waktu itu saya berpikir Ia meninggal.

Singkat cerita, kami sampai ditujuan. 4 hari di gunung, hutan. Malam pertama tidur bersama, bersama pleton masing-masing. Tapi tetap kita memakai ponco, tidak menggunakan tenda. Kemudian tibalah saat-saat tidur sendiri-sendiri di hutan (solo bivouac).

Setiap santri di sebar ke hutan, untuk membuat tenda dari ponco dan bermalam di sana. Setelah mendapatkan tempat, saya langsung bergegas membuat bivouac, harus cepat karena sedang hujan deras. Bayangkan saja bagaimana dinginnya di gunung, apalagi sedang hujan deras.

Jujur, awalnya saya tidak takut. Namun, ketika menjelang isya, mulai gelap. Hadduuh, jadi gelisah karena suasana yang sangat gelap, pohon lebat di mana-mana, bagaimana kalau pohonnya tumbang, bagaimana kalau ada ular, kalajengking, dll. Pikiran sudah kemana-mana tidak karuan. Saya ingin tidur saja, namun setelah membuka carrier (tas), sleeping bag, sarung, kaos kaki, dan sebagian besar barang yang saya bawa ternyata basah disebabkan oleh hujan, waaah mampus. Semakin kedinginan dan tersiksa di hutan karena tidur hanya memakai celana dan baju biasa, seadanya. (tips: jangan tidur menggunakan kain yang basah, berbahaya).

Akhirnya ada ide untuk menghangatkan badan dengan minyak kayu putih, dan membuat perapian. Tapi tidak berpengaruh sama sekali, nggak ngefek!. Ia lah nggak ngefek, dinginnya sungguh luar biasa dan perapiannya cuman dari lilin, hahahaha.  

=======

Yaps! begitulah sedikit cerita tentang pengalaman 4 hari di hutan. Ini beneran hutan, bukan hutan tempat latihan, serius, karena kita harus memangkas semak-semak untuk membuat bivouac. Ada juga santri yang bertemu dengan ular ketika hendak tidur, benar-benar hutan asli, huft!

Maaf ya, ceritanya segitu aja, cz aslinya ini masih kecapekan, padahal dari tadi tidur melulu, hihihi.

Ransel Siap Tempur

Ransel siap tempur
Ransel siap tempur

Jepret ransel/carrier 60 L. Pagi ini mulai ada pelantikan, dan lokasinya di gunung, hutan, katanya sih gitu, aslinya mah nggak tau dimana. Doakan ya semoga selamat sampai tujuan, dan selamat pula ketika pulang.

Pelantikannya 4 hari, sampai hari minggu, dan bermalam sendiri-sendiri (solo bivouac), bukan berkelompok. Jadi, yang menemani hanya gelap malam, beuh. 

Eh! ada lagi, kita dilarang membawa tenda.

Bismillah…

Tamparan! (34)

Mobil segede itu isinya cuman satu orang. Bisa jadi ini salah satu penyebab kemacetan, yah, mobil pribadi. Jalan raya di Indonesia umumnya tidak terlalu lebar. Bayangkan saja jika semua pengendara memakai mobil pribadi, dan isinya cuman satu orang, macet tuh!

mobil Alphard
via: carfreakz.com

Pakai angkutan umum yuk, apakah masih gengsi? hihihi. Memang, jarang sekali ditemukan orang yang memakai jas atau yang mengindisikan dia adalah bos, manajer, atau pimpinan lainnya yang naik angkutan umum, pernah melihat? atau orang itu adalah Anda? dudududuuh…

Sudahlah, celoteh kali ini itu saja, hohoho…semoga ada yang tersinggung, hehehe.

Mencoba Membaca di Angkot

Pernah melihat orang membaca buku di angkutan umum? angkot?

Membaca buku di angkot
Membaca buku di angkot | via: wikihow

Saya pernah. Dan ingin menirunya. Pada saat naik angkot, waktu itu saya di belakang, jadi menghadap samping angkot, pemandangan bagian samping angkot. Ternyata dengan duduk di belakang angkot, susah sekali fokus membaca, karena goyang, goyang ke kiri dan ke kanan. Mungkin akan berbeda ceritanya jika ada tempat bersandar, hehehe.

Kemudian beberapa hari setelahnya, saya pun mencoba duduk di kursi depan angkot, di dekat sopir. Ternyata pada posisi ini jauh lebih nyaman membaca buku, jika tidak percaya silahkan dicoba. Dengan duduk di depan, Insyaallah tidak akan goyang ke kiri dan ke kanan, hohoho.

Membaca buku di angkot, lumayan mengisi waktu kosong, apalagi kalau sampai angkotnya “ngetem”, beuh! lama sekali menunggu. So, sembari menunggu, membaca buku pilihan yang tepat bukan?