Memetik Hikmah (5)

Bukit Ar-Rahman
(Sebuah mimpi hikmah, bertemu Fospaster di lereng gunung/bukit)

Ket:
Fospaster = Teman SMA
Denggen = Sebuah desa di Lombok Timur

Ar-Rahman

Mimpi ===>

Tahu desa Denggen?
Nah, saya kesana sendirian memakai motor. Menelusuri sampai ke dalam desa, dan tersesat, udah gitu bensin habis pula. Syukurnya jalanannya menurun, jadi walaupun bensin habis, motor masih bisa jalan. Ini motor bener-bener nggak bisa direm, takut jatuh karena laju motornya semakin kencang. Akhirnya berusaha menghentikan motor pakai sepatu, srooottt srooott, akhirnya berhenti juga, namun dampaknya ngos-ngosan.

Tidak ada orang, sepi. Dan baru “ngeh” ternyata tempat ini adalah tempat seorang teman berfoto yang kemudian diupload di Instagram (tempatnya di lereng gunung, tampak ada bukit-bukit gitu). Tidak persis dengan foto yang saya lihat di instagram, foto yang ada di Instagram jauh lebih bagus.

Di sana, mau minta tolong tidak bisa, karena tidak ada orang satupun. Akhirnya saya memberanikan diri menelusuri lereng gunung. [komentar: mana ada lereng gunung di desa Denggen, namanya juga mimpi].

Diantara lemah, letih, lesu dan lunglai akhirnya tiba-tiba bertemu Fospaster (teman SMA). Ada Yogi, Awan, dan Pras di sana. Mereka semua bermain di sungai yang airnya mulai mengering. Melihat disekeliling, pohon-pohon juga tampak mengering, sangat kering dan tidak ada buahnya. Berbeda sekali dengan foto Instagram yang diupload teman, tampak hijau. Aslinya, benar-benar tempat ini sangat mengenaskan.

Kemudian tiba-tiba datang Rina dan Pipit menghampiri. Rina dan Pipit juga sepertinya tersesat. Jadi, kami adalah orang-orang tersesat yang ditakdirkan bertemu di tempat kering ini. Rasa capek mengiringi rasa lapar, ingin makan buah, tapi mau apa dikata, pepohonan di tempat ini begitu kering, bagaimana mungkin bisa berbuah.

Akhirnya kami turun (menuruni bukit panas nan kering) untuk mencari makanan, siapa tahu di bawah lebih hijau, berharap ada buah yang bisa dimakan. Ternyata di bawah juga sama, tempatnya kering kerontang, keadaan di bawah sama saja dengan yang di atas, usaha kami sama sekali tidak membuahkan hasil. Anehnya, di tengah perjuangan mencari makanan, tiba-tiba ada mobil datang (mobil itu mirip Honda Brio), bukannya membantu, malah ingin menabrak Pipit dan Rina. WussS! mobil itu kabur setelah menyerempet Pipit dan Rina. Pipit dan Rina menangis tersedu-sedu. Keadaan di tempat ini semakin parah, parah sampai membuat kami tersiksa.

Benar-benar pasrah.
Kami berkumpul menghampiri Pipit dan Rina (ceritanya nemenin yang lagi nangis). Dalam suasana hening, mencairkan suasana, Awan membaca surah Ar-Rahman. Saya ingat dalam mimpi, yang dibaca tidak banyak, hanya 6 atau 7 ayat. Awan membaca dari ayat pertama. Suaranya merdu sekali, dan Dia berbisik ingin sekali belajar Al-Quran. Dalam hati saya mengatakan “wah, suara sebagus ini, tapi Dia masih ingin terus belajar”.

Ketika Awan berhenti membaca surah Ar-Rahman dari ayat 1-6 atau 7, Pipit yang sedang menangis membaca pula surah Ar-Rahman, bukannya menyambung bacaan Awan, melainkan Pipit mulai dari ayat satu. Saya mendengarkan bacaannya, ada yang salah dari bacaannya, huruf Ro (fathah dan tasydid) dibaca Ra (Arrohman dibaca Arrahman, Rofaaha dibaca Rafaaha, dan seterusnya). Ingin sekali mengoreksi bacaannya langsung. Tapi, karena Pipit sedang menangis, saya memilih menunggu Pipit berhenti dulu membaca Al-Quran, baru kemudian mengoreksi. (Siapa tahu bacaannya salah karena sedang menangis).

Dalam mimpi, saya ingat Pipit membaca Ra sebanyak 3 atau 4 kali, yang jelas lebih dari 2x. Jadi, kalau huruf Ro (fathah dan tasydid) dibaca 3 atau 4 kali, berarti Pipit membaca surah Ar-Rahman dari ayat 1 sampai ayat ke 12 atau 13 (lebih banyak dari Awan). Ketika Pipit sedang membaca ayat 12 atau 13, bacaannya dihentikan karena…………

tiba-tiba ada seseorang yang memanggil dari atas bukit tempat kita bermain tadi, ntah Dia siapa dan datang dari mana, Dia berteriak sambil melambai-lambaikan tangan:
“Woeeee!!! ayo naik ke sini…!!!!!”
Tanpa berpikir panjang, serentak kita semua berlarian ke atas bukit, memanjat. Yang paling cepat itu Yogi, kemudian disusul Pras. Setelah memanjat, Subhanallah… terlihat tempat itu berbeda dari sebelumnya, jauh lebih hijau, air sungainya deras, pepohonannya tumbuh segar nan hijau, dan banyak buah-buahan pula.

Setelah berhasil memanjat bukit, kita semua terkejut melihatnya, bukannya langsung memetik buah karena lapar dan menikmati suasana atau berfoto ria, kita semua malah memilih terjun langsung ke bawah saking takutnya, bagaimana mungkin ini bisa terjadi??? tempat yang begitu kering tiba-tiba menjadi sangat hijau dan sejuk, jauh lebih indah berkali-kali lipat dari foto tadi yang diupload teman saya di Instagram.

Karena posisi saya paling bawah, Pras yang terjun duluan,
kakinya semakin dekat akan menabrak kepala saya,
tinggal sedikit lagi mengenai muka saya,
huaaaaaaaaaaaaaa!!!, dan akhirnya saya pun TERBANGUN dari tidur.

<====

Begitulah kurang lebih mimpi siang tadi…

Awalnya saya berpikir, ah! ini mimpi biasa saja.
Tapi saking penasarannya saya membuka mushaf terjemah di masjid dekat kosan, membaca terjemah ayat-ayat awal surah Ar-Rahman,

tiba-tiba saja merinding membaca terjemah surah Ar-Rahman ayat 1-12 atau 13, karena benar-benar berkaitan dengan mimpi tadi. Kumpulan ayat ini kalau dalam Mushaf terjemah tematik itu masuk dalam bab tentang “Beberapa nikmat Allah Swt yang dapat dirasakan di dunia”.

Berikut beberapa terjemah ayatnya:
(1) Allah Yang Maha Pengasih,
(6) dan tetumbuhan dan pepohonan, keduanya tunduk (kepada-Nya).
(11) di dalamnya ada buah-buahan dan pohon kurma yang mempunyai kelopak mayang,
(12) dan biji-bijian yang berkulit dan bunga-bunga yang harum baunya.
(13) Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

============

Fakta:
– Tumben nih mengingat sebagian besar alur cerita dalam mimpi
– Sebenarnya ada juga cerita sebelumnya yang sengaja tidak dituliskan, karena dirasa rada-rada nggak nyambung, he
– Dalam mimpi, di desa Denggen (dataran rendah) saya melakukan perjalanan menurun, aneh kalau sampai menemukan perbukitan atau lereng gunung, harusnya kan kalau perjalanan menurun yang ditemui ya pantai atau apalah, hehehe, namanya juga mimpi
– Mimpi ini diceritakan apa adanya, mana mungkin saya mengarang cerita mimpi seperti ini

– Sebelumnya, saya tidak tahu arti ayat-ayat awal dari surah Ar-Rahman
– Yang memanggil dari atas bukit itu adalah teman kuliah, namanya Kennedy (ternyata Dia yang tidak bisa membaca Ro, karena dari kecil terpengaruh sama buku-buku tajwid yang secara alfabet ditulis Ra, tapi sebenarnya dibaca Ro)

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s