Bermalam Sendiri di Hutan

Baru merasakan bermalam sendiri di hutan, hanya bermodalkan ponco dan tali rafia. Jadi ceritanya begini:

Hari kamis lalu, kami (santri SSG) pergi ke gunung untuk melaksanakan pelantikan. Naik angkot dari pesantren ke Lembang, kemudian jalan sampai ke gunung, huadduh asli capek sekali, ditambah lagi sedang shaum. Saya selalu berbisik dalam hati, yang akhwat saja kuat, masak saya yang ikhwan kalah? ini semacam motivasi tersembunyi, hehehe.

Ada beberapa orang harus berhenti di tengah jalan (tergeletak), ada yang asmanya kambuh, ada yang pingsan, dsb. Ada yang paling parah, seorang ikhwan, sampai ditandu, jujur waktu itu saya berpikir Ia meninggal.

Singkat cerita, kami sampai ditujuan. 4 hari di gunung, hutan. Malam pertama tidur bersama, bersama pleton masing-masing. Tapi tetap kita memakai ponco, tidak menggunakan tenda. Kemudian tibalah saat-saat tidur sendiri-sendiri di hutan (solo bivouac).

Setiap santri di sebar ke hutan, untuk membuat tenda dari ponco dan bermalam di sana. Setelah mendapatkan tempat, saya langsung bergegas membuat bivouac, harus cepat karena sedang hujan deras. Bayangkan saja bagaimana dinginnya di gunung, apalagi sedang hujan deras.

Jujur, awalnya saya tidak takut. Namun, ketika menjelang isya, mulai gelap. Hadduuh, jadi gelisah karena suasana yang sangat gelap, pohon lebat di mana-mana, bagaimana kalau pohonnya tumbang, bagaimana kalau ada ular, kalajengking, dll. Pikiran sudah kemana-mana tidak karuan. Saya ingin tidur saja, namun setelah membuka carrier (tas), sleeping bag, sarung, kaos kaki, dan sebagian besar barang yang saya bawa ternyata basah disebabkan oleh hujan, waaah mampus. Semakin kedinginan dan tersiksa di hutan karena tidur hanya memakai celana dan baju biasa, seadanya. (tips: jangan tidur menggunakan kain yang basah, berbahaya).

Akhirnya ada ide untuk menghangatkan badan dengan minyak kayu putih, dan membuat perapian. Tapi tidak berpengaruh sama sekali, nggak ngefek!. Ia lah nggak ngefek, dinginnya sungguh luar biasa dan perapiannya cuman dari lilin, hahahaha.  

=======

Yaps! begitulah sedikit cerita tentang pengalaman 4 hari di hutan. Ini beneran hutan, bukan hutan tempat latihan, serius, karena kita harus memangkas semak-semak untuk membuat bivouac. Ada juga santri yang bertemu dengan ular ketika hendak tidur, benar-benar hutan asli, huft!

Maaf ya, ceritanya segitu aja, cz aslinya ini masih kecapekan, padahal dari tadi tidur melulu, hihihi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s