Nostalgia (4)

Teringat kala itu ketika masih TK sampai kelas 3 SD, belajar ngaji kadang-kadang di rumah. Guru ngaji saya adalah Bapak, horor. Ketika mengaji diajar bapak, kesannya adalah “tiada hari tanpa menangis”, salah dikit saja dicubit/dipukul dan dimarah, hahahaha. Jadi kangen, eits! kangen bukan berarti mau dicubit lagi lo yaa…hehehe.

Dulu, kita ngaji seperti menyetor air mata saja. Kalau sudah waktunya ngaji, deg degan, takut salah, dan berujung menangis karena dimarah. Bukan saya sendiri, melainkan juga bersama adik, Nani. Kita berdua selalu menyetor air mata kalau belajar ngaji di rumah, hihihi.

Pendidikan belajar mengaji di rumah, dulu terkesan keras. Bukan hanya di rumah saya saja, melainkan tetangga juga. Berbeda kalau misalkan di TPQ, tidak keras, karena yang diajar bukan anaknya, hohoho. Tapi, saya melihat sekarang sudah berubah, alhamdulillah tidak begitu keras.

Hm, setidaknya pernah merasakan pendidikan yang berkesan, hihihi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s