Memetik Hikmah (1)

Allah Melindungiku

Sebuah cerita hikmah.

Hari Kamis lalu, tepatnya menjelang siang, aku tidak kuasa menahan sakit. Baru kali ini rasanya sakit, dan tidak berdaya sama sekali. Sebutlah tipes. Biasanya sakit, aku masih kuat pergi membeli makan, namun kali ini tidak, hanya duduk tegak saja merupakan sebuah prestasi yang luar biasa, sakit yang cukup parah.

Sudah siang, aku pun belum makan. Ingin meminta tolong dibelikan makanan, namun teman-teman kosan, ibu kos, dan semua seisi kos tidak ada. Mereka semua pulang kampung, karena memang ini adalah musimnya mahasiswa pulang kampung, kuliah libur. Ya Allah, hanya bisa berbaring, menahan lapar dan dahaga. Aku mencoba tegar dengan menguatkan diri untuk makan sesuap nasi. Dan ternyata berhasil, yang termakan hanya dua suap, tanpa lauk. Makan tidak ada rasanya, ya Allah semoga aku bisa melewati hari ini.

Allah mengabulkan doaku. Smartphone berdering, ada sms dari sahabat Lombok, Dia tidak jadi pulang ke Yogyakarta karena tepat pada hari itu juga tiket pulang untuk dia seorang habis. Sebelumnya, dia dan lima temannya berlibur di Bandung dari hari Senin. Jadi sekitar empat hari lamanya mereka sudah ada di sini, namun bukan di kosanku. Hanya karena satu tiket, aku yakin tidak ada yang kebetulan, dia temanku pasti ditakdirkan untuk datang ke kosanku bertamu, merawatku.

Benar, Dia datang bersamanya temannya. Temanku bernama Ria, dan teman yang setia menemaninya, Rifa. Rifa memutuskan untuk menemani Ria sampai jadwal tiket pulang, yaitu sampai hari Sabtu. Mereka berdua memutuskan menginap di kosan. Aku mengiyakan sembari bersyukur, karena aku bisa menitip dibelikan makanan. Satu yang aku pikirkan tentang kedatangan mereka, “apakah aku bisa turun tangga menyambut kedatangan mereka?” ya Allah, kuatkanlah hamba. Kau datangkan mereka untuk merawatku, aku yakin semua karena-Mu ya Allah, kuatkanlah hamba.

Mereka datang, ntah kekuatan dari mana, aku bisa turun untuk membukakan mereka pintu gerbang. “ayo masuk”, aku keluar dan mempersilahkan mereka masuk ke kamar kosan, pada saat itu aku keluar dengan memakai kaos kaki dan sandal. Hanya sedikit bicara, karena aku tidak kuat. Aku masuk mereka masuk, aku langsung tidur, mereka masih kuat duduk.

Ria: Nih makanan yang dipesan tadi,
Saya: Oia, taruh di sana dulu aja,
Ria: Makan sekarang, saya juga bawakan obat nih,
Saya: Obat?

Wah, mereka juga ternyata membawakan obat, tidak ada yang kebetulan. Semua sudah masuk dalam skenario, ya Allah, betapa kau telah menunjukkan kebesaranMu. Aku makan bersama mereka, dan yang terjadi adalah hanya kuat memakan dua suap nasi, ya ampun aku malu, karena mereka sudah capek membelikannya untukku. Tapi, tidak mengapa, karena memang biasanya aku tidak pernah memaksakan diri. Aku meminum obat yang diberikan Ria, setelah itu aku tidak ngobrol dengan mereka, melainkan langsung tidur di kamar kosan sebelah. Sebelumnya sudah meminta izin pada ibu kos, mereka Ria dan Rifa tidur di kamarku, sementara aku tidur di kamar sebelah, dan lagi-lagi karena Allah, ada kamar kosong waktu itu juga, Subhanallah, betapa Allah melindungiku hari itu.

Pulas tertidur, besoknya aku merasa sehat. Ya Allah, Alhamdulillah. Padahal kemarin sakit parah sekali. Kau berikan hamba kesehatan melalui perantara Ria dan Rifa. Hari ini, aku berterimakasih, berterimakasih, bersyukur kepada Allah. Ria dan Rifa pergi jalan-jalan, membeli oleh-oleh ke pasar baru. Aku tidak ikut, karena baru sembuh. Aku hanya memberitahukan informasi angkutan umum menuju ke pasar baru saja.

Sudah selesai, tibalah hari dimana Ria dan Rifa pulang ke Yogyakarta, Sabtu. Malamnya, malam Sabtu, ntah kenapa kami bertiga tidak tidur, hahaha, tidak ada perjanjian untuk tidak tidur, memangnya ada? hehehe.  Aku menguatkan diri untuk mengajak mereka jalan-jalan, meskipun tidak jauh, hanya ke kampus, tepatnya ke museum UPI dan sedikit berfoto ria di gedung Isola UPI. Sebelumnya, kita bertiga makan bubur ayam di depan lapangan futsal Gerlong, waaah hangatnya. Karena waktu itu kursi hanya dua, dan kami bertiga, kami memutuskan untuk duduk bersila saja di pinggir jalan, hihihi.

Main-main di museum. Aku memutuskan untuk naik lip paling atas. Jadi kita menikmati suguhan museum dari atas ke bawah, agar tidak capek, maklum baru sembuh. Waktu menunjukkan pukul 11.00 pagi. Kami bergegas pulang, mengingat mereka juga butuh waktu mempersiapkan barang bawaan untuk pulang. Awalnya mereka ingin memakai taksi, tapi ntah lah hari itu taksinya tidak kunjung datang, mungkin karena hari libur, jalanan macet, sehingga membuat lama taksi sampai ke kosan.

Aku memutuskan untuk mengantar mereka, karena kebetulan sekali ketika kami menunggu taksi, ada teman kosan yang datang memakai motor, tidak pikir panjang aku menunggunya masuk gerbang kosan dan meminjam motornya, hihihi. Baik! masih ada waktu, aku putuskan untuk mengantar mereka satu per satu.

Alhamdulillah mereka berdua sudah sampai di Bandara tepat waktu.

Terimakasih sobat, melalui kalian, aku tahu betapa Allah melindungiku hari itu.
Tidak ada yang kebetulan, Allah sudah merancang skenario hari-hari seru bersama kalian.
Tidak terasa, kalian yang merawatku selama tiga hari, tidak meminta imbalan kenang-kenangan, apalagi uang, hehehe.
Sekali lagi, terimakasih, kedatangan kalian sangat berarti bagiku, hihihi. Sampai jumpa di lain waktu dan kesempatan yaa, semoga pada pertemuan selanjutkan aku sehat dan bugar, agar tidak membebani kalian lagi, hahhay!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s